Beberapa waktu lalu ada pertanyaan, mengapa dari eXe kalau hasil export ke SCORM berbeda dengan yang export ke web site setelah dimasukkan ke Moodle,
sebenarnya apa itu SCORM, bisa saya jelaskan sbb:
SCORM (The Sharable Content Object Reference Model) merupakan standart eLearning, adalah kumpulan spesifikasi yang diadaptasi dari beberapa sumber untuk memberikan kapabilitas elearning yang komprehensif sehingga memungkinkan interoperabilitas, aksesibilitas, dan reusabilitas dari konten berbasis web.
Konten berbasis web yang meskipun dikembangkan oleh platform yang berbeda-beda, namun jika dia memiliki standart SCORM memungkinkan bisa diterima oleh berbagai platform eLearning (yang tentunya punya standart SCORM juga)
lebih lengkapnya dapat dibaca juga di:
http://elearn.mardi.my/MARDILMS/Attachments/StaffPhotos/wp_standardsAug21200715344.pdf
baik export ke SCORM dan web site keduanya adalah tampilan berbasis web, nah bedanya secara kasat mata :) adalah sbb:
SCORM :
- tampilannya sederhana
- memiliki catatan/log: halaman mana yang sudah dibuka, berapa lama dibuka, dan siapa yang membuka konten ini
jadi, dengan standart SCORM kita bisa mengetahui apakah sebuah modul dibaca oleh user/siswa atau tidak,
sedangkan export website biasa, tidak ada catatan seperti di atas, namun tampilannya memang lebih baik pada bagian menunya dan header, kelemahannya tidag ada log/catatan untuk melacak siapa yg membaca modul kita.
Untuk mengetahui contoh scorm, bisa lihat di
http://www.igi-alliance.com/igi-elearning/vedc/eLearning/
bisa login as guest, atau mendaftar juga bisa, setelah itu masukke Diklat Balikpapan, disana ada modul Tutorial eXe, yang berbasis SCORM,
pada tulisan berikutnya, akan saya lengkapi dengan gambar-gambar,
Showing posts with label SCORM. Show all posts
Showing posts with label SCORM. Show all posts
Saturday, November 29, 2008
Monday, May 12, 2008
Memasukkan modul berbasis SCORM di Claroline
SCORM adalah sebuah standart penyimpanan konten yang dibuat mengguanakan authoring tools seperti eXe. Dengan standart SCORM maka konten yang dibuat akan dipackaging menjadi sebuah file, dan mudah diupload ke sebuah platform eLearning. Keunungan lain adalah konten bisa di-tracking, artinya kita bisa mengetahui, siapa yang membuka konten tersebut, dan sudah selesai pada halaman berapa. Ini menguntungkan bagi guru, maupun siswa. Guru bisa mengetahui proses belajar siswa, dan siswa bisa dengan mudah mengingat sampai pada halaman berapa dia telah membuka sebuah konten/modul.
Kalau di Moodle, untuk upload konten berbasis SCORM sudah ada fasilitasnya, dimana SCORM masuk dalam kelompok activity, bagaimana kalau di Claroline?
Pada eLearning Palatform ini, yaitu Claroline, maka konten berbasis SCORM juga tidak dikelompokan dalam dokumen, tetapi pada kelompok Learning Path.
Pada menu Learning Path, akan ada menu Import a Learning Path, setelah itu kita diminta upload import a eLearning path. Imported packages must consist of a zip file and be SCORM 1.2 conformable.
Klik Browse, Pilih file (SCORM), klik import,
terjadi proses upload, dan sebagai judul Learning Path, adalah judul dari Modul kita.
Di samping contoh Learning Path, sebagai konten berbasis SCORM adalah Pengantar Pemrograman.
Kalau di Moodle, untuk upload konten berbasis SCORM sudah ada fasilitasnya, dimana SCORM masuk dalam kelompok activity, bagaimana kalau di Claroline?
Pada eLearning Palatform ini, yaitu Claroline, maka konten berbasis SCORM juga tidak dikelompokan dalam dokumen, tetapi pada kelompok Learning Path.
Pada menu Learning Path, akan ada menu Import a Learning Path, setelah itu kita diminta upload import a eLearning path. Imported packages must consist of a zip file and be SCORM 1.2 conformable.
Klik Browse, Pilih file (SCORM), klik import,
terjadi proses upload, dan sebagai judul Learning Path, adalah judul dari Modul kita.Di samping contoh Learning Path, sebagai konten berbasis SCORM adalah Pengantar Pemrograman.
Subscribe to:
Posts (Atom)